Posted by: faditya | August 7, 2008

Apakah Stres Itu?

Lagi nyari2 artikel tentang tanda-tanda penyakit bronkhitis, malah ketemu 1 artikel menarik ini…. dan bronkhitis bisa disebabkan oleh stress… hohoho

Apakah Stres Itu?

Oleh: dr. Albert Maramis, SpKJ

Menurut Dr. Hans Selye, stres adalah respons umum terhadap adanya tuntutan pada tubuh. Tuntutan tersebut adalah
keharusan untuk menyesuaikan diri, dan karenanya keseimbangan tubuh terganggu.

Manusia membutuhkan stres untuk bisa berfungsi normal. Anggaplah stres sebagai suatu tantangan, tanpa itu manusia tidak
akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Seberapa besar stres yang dibutuhkan? Mari kita lihat gambar berikut.

Mula-mula, sejalan dengan meningkatnya stres, meningkat pula kinerja manusia sampai suatu titik tertentu. Pada saat ini
kita tidak menganggap diri kita dalam keadaan stres, melainkan dalam keadaan bersemangat, bergairah, atau penuh
dorongan. Namun, lewat titik tersebut, tambahan stres akan membuat kinerja kita menurun dan mengurangi kemampuan untuk
mengatasinya (coping). Sebagian besar dari kita mempunyai rentang stres yang optimal atau “Daerah Nyaman” (Comfort Zone)
yang membuat kita merasa nyaman dan berfungsi baik. Jika kita melampaui daerah nyaman, timbul rasa lelah yang merupakan
tanda untuk mengurangi tingkat stres kita. Jika hal itu tidak dilakukan, maka kita menjadi kehabisan tenaga, sakit, dan
akhirnya ambruk (breakdown).

Tanda-tanda Stres

Manusia bereaksi seutuhnya, artinya terdapat gejala-gejala fisik maupun psikis yang dapat dibagi sebagai berikut. Gejala
Fisik: merasa lelah, insomnia, nyeri kepala, otot kaku dan tegang (terutama leher/tengkuk, bahu, dan punggung bawah),
berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, gangguan lambung dan pencernaan, mual, gemetar, tangan dan kaki merasa dingin,
wajah terasa panas, berkeringat, sering flu, dan menstruasi terganggu.

Karena gejala fisik ini mungkin ada kaitannya dengan penyakit fisik, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum
memutuskan bahwa gejala fisik tersebut disebabkan oleh stres.

Gejala Mental: berkurangnya konsentrasi dan daya ingat, ragu-ragu, bingung, pikiran penuh atau kosong, kehilangan rasa
humor.

Gejala Emosi: cemas (pada berbagai situasi), depresi, putus asa, mudah marah, ketakutan, frustrasi, tiba-tiba menangis,
fobia, rendah diri, merasa tak berdaya, menarik diri dari pergaulan, dan menghindari kegiatan yang sebelumnya disenangi.

Gejala Perilaku: mondar-mandir, gelisah, menggigit kuku, menggerak-gerakkan anggota badan atau jari-jari, perubahan pola
makan, merokok, minum minuman keras, menangis, berteriak, mengumpat, bahkan melempar barang atau memukul.

Belajar untuk mewaspadai tanda-tanda stres Anda merupakan langkah pertama untuk manajemen stres dan proses penyembuhan.

Apa saja yang dapat menjadi sumber stres?

Penyebab stres kadang kala mudah untuk dideteksi, tetapi ada yang sulit untuk diketahui. Ada yang mudah untuk
dihilangkan, ada yang sulit atau bahkan tidak bisa dihindari. Tiga sumber utama adalah: lingkungan, badan, dan pikiran.

Lingkungan selalu membuat kita harus memenuhi tuntutan dan tantangan, karenanya merupakan sumber stres yang potensial.
Kita mengalami bencana alam, cuaca buruk, kemacetan lalu-lintas, dikejar waktu, masalah pekerjaan, rumah tangga, dan
hubungan antar manusia. Juga kita dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi keuangan, pindah kerja,
atau kehilangan orang yang kita cintai.

Sumber stres kedua adalah tuntutan dari tubuh kita untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan faali yang terjadi.
Contohnya: perubahan yang terjadi waktu remaja, perubahan fase kehidupan akibat fluktuasi hormon dan proses penuaan.
Selain itu, datangnya penyakit, makanan yang tidak sehat, kurang tidur dan olah raga akan mempengaruhi respons terhadap
stres.

Potensi stres utama juga datang dari pikiran kita yang terus-menerus menginterpretasikan isyarat-isyarat dari
lingkungan. Interpretasi kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi menentukan apakah kita stres atau tidak. Apakah
kita melihat gelas yang berisi air separuhnya sebagai setengah penuh atau setengah kosong? Pikiran-pikiran yang
menyebabkan stres sering bersifat negatif, penuh kegagalan, katastrofik, hitam-putih, terlalu digeneralisasi, tidak
berdasarkan fakta yang cukup, dan terlalu dianggap pribadi.

Akibat apa yang dapat timbul dari stres yang tidak ditangani?

Saat kita mempersepsikan sesuatu sebagai stres, bagian otak yang menangani pikiran mengirimkan sinyal ke sistem saraf
melalui hipotalamus. Sistem saraf lalu mempersiapkan tubuh untuk menghadapi stres tersebut. Terjadi perubahan detak
jantung dan tekanan darah, serta pupil melebar. Juga ada hormon dan zat-zat kimia yang dikeluarkan/disekresi, seperti
adrenalin. Sekresi adrenalin ini yang membuat tubuh siap, namun jika terjadi berkepanjangan akan menimbulkan kerugian
misalnya terhambatnya pertumbuhan dan pemulihan tubuh, pencernaan dan reaksi kekebalan tubuh (imunologik).

Akibat fisik. Dapat terjadi penyakit terkait stres; sebagai contoh penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler)
akibat meningkatnya tekanan darah yang merusakkan jantung dan pembuluh darah (arteri) serta meningkatnya kadar gula
darah. Di paru dapat terjadi asma dan bronkhitis (radang saluran napas). Jika terjadi hambatan fungsi pencernaan, dapat
timbul penyakit seperti tukak/ulkus, kolitis (radang usus besar) dan diare kronik (menahun). Stres juga berperan dalam
menghambat pertumbuhan jaringan dan tulang yang akan menyebabkan dekalsifikasi (berkurangnya kalsium) dan osteoporosis
(tulang keropos). Sistem kekebalan tergangggu melalui berkurangnya kerja sel darah putih, sehingga badan menjadi lebih
rentan terhadap penyakit. Akibat lain adalah meningkatnya ketegangan otot, kelelahan dan sakit kepala.

Akibat emosional. Karena pelepasan dan kekurangan norepinefrin (noradrenalin) yang kronis dapat terjadi depresi. Yang
juga berperan adalah pikiran bahwa hidup ini buruk dan tidak akan menjadi lebih baik. Akibatnya timbul perasaan tak
berdaya dan ketakmampuan, merasa gagal dan kepercayaan diri jatuh. Orang yang terkena depresi cenderung menarik diri
dari pergaulan dan menyendiri yang pada gilirnnya malah menambah depresinya. Juga anxietas (kecemasan yang berlebihan)
dan ketakutan sangat sering terjadi jika seseorang terus-menerus mempersepsikan adanya ancaman. Orang yang stres
berkepanjangan akan menunjukkan sisnisme, kekakuan pendirian, sarkasme, dan iritabilitas (mudah tersinggung).

Akibat pada perilaku. Sering terjadi perubahan perilaku akibat dorongan untuk mencari pelepasan; bertempur atau lari.
Masalahnya, perilaku yang dipilih sering merugikan, misalnya “perilaku adiktif” (kecanduan) akibat usaha untuk meredakan
atau melarikan diri dari stres yang menyakitkan. Alkohol, obat-obatan, merokok, dan makan berlebihan sering dijadikan
alat untuk membantu menghadapi stres. Padahal efeknya hanya berlangsung sementara dan akibat penggunaan jangka panjang
akan merusak bada
n dan pikiran atau jiwa. Sayangnya, pikiran dapat menolak/menyangkal akibat jangka panjang itu untuk
sekadar memenuhi kepuasan sesaat. Perilaku lainnya yang terlihat adalah menunda-nunda, perencanaan yang buruk, tidur
berlebihan dan menghindari tanggung jawab. Taktik ini malah merugikan karena menimbulkan masalah baru bagi individu
tersebut.

dr. Albert Maramis, SpKJ
Saat ini bekerja di Rumah Sakit Jiwa Manado,
Sulawesi Utara.
http://www.geocities.com/almarams/

taken from: http://sivalintar.tripod.com/artikel2.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: