Posted by: faditya | October 12, 2010

Jangan sembarangan minum antibiotik

Just sharing sedikit ilmu…

Kadang kadang kita gampang panik and segera ke dokter kalo anak sakit panas …

dan biasanya dokter kasihnya antibiotik dan antibiotik….

terus lama2 jadi kebiasaan…. tanpa resep dokter sakit sedikit beli aja antibiotik

Padahal penggunaan antibiotik yang tidak tepat malah bisa membunuh bakteri yang baik tidak hanya bakteri yang jahat.

Jadi, dibandingkan ke dokter lakukan saja home treatment..

contoh anak pilek… diuapin aja pakai minyak kayu putih, seing2 dijemur, dan berendem air hangat…

Anak mencret, cukup diberikan banyak cairan agar tidak dehidrasi… paling2 kasih oralit…

sakit tenggorokan, banyak2 aja minum air hangat…

atau yang biasa dilakukan suami saya kalau gak enak badan… panasin badan dengan kasih selimut yang tebal atau pake jaket, mattin kipas angin, makan dan minum yang banyak…

dll…maaf ilmu saya belum banyakk…

Coba dicek di sini ya…

atau ikutan saja milis sehat

Dampak Penggunaan Antibiotik yang Irasional

Kamis, 17 September 2009 | 11:22 WIB

KOMPAS.com — Penggunaan atau pemberian antibiotik sebenarnya tidak membuat kondisi tubuh semakin baik, justru merusak sistem kekebalan tubuh karena imunitas anak bisa menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu kemudian anak mudah jatuh sakit kembali.

Jika pemberian antibiotik dilakukan berulang-ulang, ujung-ujungnya anak jadi mudah sakit dan harus bolak-balik ke dokter gara-gara penggunaan antibiotik yang tak rasional.

“Kenyataannya, kita ‘boros’ dalam menggunakan antibiotik sehingga bisa menimbulkan dampak buruk antara lain sakit berkepanjangan, biaya yang lebih tinggi, penggunaan obat yang lebih toksik, dan waktu sakit yang lebih lama,” sesal dr Purnamawati S Pujiarto, SpA (K), MMPed, yang akrab disapa Wati ini.

Selain itu, ada beragam efek yang mengancam bila anak mengonsumsi antibiotik secara irasional, di antaranya kerusakan gigi, demam, diare, muntah, mual, mulas, ruam kulit, gangguan saluran cerna, pembengkakan bibir maupun kelopak mata, hingga gangguan napas.

Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini berisiko menimbulkan alergi di kemudian hari.

Dampak lain akibat pemberian antibiotik irasional adalah gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Risiko kelainan hati muncul pada pemakaian antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonami
d.

Golongan amoxycillin dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis (peradangan hati). Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Selain itu, pemberian antibiotik spektrum luas tanpa indikasi yang tepat dapat mengganggu perkembangan flora normal usus karena dapat mematikan bakteri gram positif, bakteri gram negatif, kuman anaerob, serta jamur yang digunakan pada proses pencernaan dan penyerapan makanan dalam tubuh. Bakteri yang ada di dalam tubuh umumnya menguntungkan, seperti bakteri pada usus yang membantu proses pencernaan serta pembentukan vitamin B dan K.

Nah, anak yang kelebihan antibiotik bisa mengalami kekurangan vitamin K yang berguna mencegah perdarahan. Selain itu, juga akan menyebabkan anak menderita penyakit diare karena sistem pencernaan terganggu dan mengalami iritasi di bagian usus akibat zat-zat kimia dari antibiotik.

Diare disebabkan terbunuhnya kuman yang diperlukan untuk pencernaan dan menjaga ketahanan usus sehingga bakteri “jahat” menguasai tempat tersebut dan merusak proses pencernaan.

Akibat lain dari pemberian antibiotik yang tidak tepat adalah timbulnya kuman yang resisten. Setiap makhluk memiliki kemampuan untuk bertahan, begitu pun bakteri atau kuman. Jika jasad renik ini diserang terus-menerus, akan tercipta suatu sistem untuk bertahan dengan cara bermutasi atau berubah bentuk sehingga sulit dibunuh oleh antibiotik. “Jadi, semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin resisten pula bakteri, parasit, atau jamur tersebut!” tandas Wati.

Bibit penyakit yang resisten itu dikenal dengan nama superbugs. Superbugs ini dapat menjadi masalah serius bagi kesehatan, baik bagi si penderita maupun masyarakat luas. Bila ada anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.

Infeksi akibat superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping kesehatan yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya akan kebal kembali terhadap antibiotik yang superkuat tadi.

Itulah sederet akibat buruk dari penggunaan antibiotik secara berlebihan (irasional). “Yang akan dirugikan tentu bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” kata Wati. Lantaran itu, pasien diharapkan tidak selalu meminta dokter memberikan antibiotik terutama untuk penyakit infeksi virus seperti flu, pilek, atau batuk.

Memang, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat bakteri atau kuman sehingga tak lepas perannya dalam proses penyembuhan. Akan tetapi, penggunaan yang irasional menyebabkan antibiotik lebih banyak merugikannya ketimbang menguntungkan. (Nakita/Hilman Hilmansyah)

Sumber : Kompas


Responses

  1. memang betul, kalau konsumsi antibiotik sembarangan akan merugikan diri sendiri. Sebagai patokan,kalau di kemasan obat ada tulisan ‘harus dengan resep dokter’, ya harus ditaati. Apotik pun, seharusnya tidak melayani pembelian antibiotik tanpa resep dokter.

  2. Iya bu betul. Terimakasih atas tambahan informasinya… Btw amoxilin kayaknya dijual bebas ya… Di toko obat banyak yang jual tanpa resep dokter.

  3. yup, antibiotik kan hanya untuk melawan bakteri, bukan virus. Sementara kalo sakit flu seringkali diresepkan antibiotik, padahal flu kan disebabkan oleh virus😦

  4. betul mbak,.. kayaknya di masayrakat kita antibiotik sudah dikenal sebagai obat segala macam penyakit dehh

  5. tia, ini ada link e-book gratis berjudul “Where There Is No Doctor” ttg pengobatan ‘darurat’ di rumah jika tak ada dokter. semoga bermanfaat! http://www.hesperian.org/publications_download_wtnd.php


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: