Posted by: faditya | February 14, 2011

Susu UHT lebih baik dari susu formula

Alhamdulillah…

akhirnya sempet juga bikin notes ini…

Sesuai judulnya, Susu UHT itu ternyata lebih baik dari susu formula lho…

InsyaAllah saat Sayyid 1 tahun nanti, aku dan suami sepakat

untuk memberi susu UHT sebagai tambahan ASI selama aku kerja..


Kenapa pilih susu UHT?


Berikut aku berikan beberapa rangkuman dari berbagai artikel.


Tapi, secara umum, alasannya:

1. Pada susu formula, sudah banyak gizi yang terbuang akibat proses pembuatannya sendiri.

plus kemungkinan masuknya bakteri lebih mudah,


Seadngkan UHT karena dilakukan dengan pemanasan super tinggi dalam waktu yang singkat (135-145 derajat celcius) selama 2-5 detik. Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora.


Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta

untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya.



2. Penambahan zat2 tambahan pada susu formula spt DHA dan AA sebenarnya relatif tidak diperlukan,

semua itu bisa diambil dari sumbernya yang alami, yaitu penggunaan makanan dengan gizi seimbang.



Kalo ada yang alami, kenapa harus pakai bahan buatan?


Dari yang ‘basic ingredients’ seperti bahan2 untuk standarisasi,

bahan pengisi, gula/pemanis, pengawet, flavor + aroma + pewarna, dsb…;

sampai beberapa unsur yang difortifikasi… yang katanya sih untuk

brain development seperti AA, DHA, Spingomyelin, FOS, GOS, dkk…



Padahal susu murni sudah mengandung omega 3 & omega 6 yang merupakan

precursor (cikal bakal) si AA & DHA, yang secara alami akan

disintesis oleh tubuh jika ada si precursor tsb.

Sedangkan GOS (Galakto-oligosakarida) yang termasuk dalam kelompok

probiotik, yang juga disebut2 terfortifikasi pada sebuah susu

formula, ternyata secara alami terdapat dalam susu cair murni

termasuk air susu ibu (Made Astawan, 2007, Majalah Ayahbunda).



Dan yang lebih penting lagi, zat gizi alami yang terdapat pada susu

murni (susu UHT) lebih mudah diserap tubuh dibandingkan dengan zat

gizi fortifikasi yang terdapat pada susu formula

(http://www.mail-archive.com/ayahbunda-online@yahoogroups.com/msg06496.html)



3. Secara ekonomis, lebih murah ternyata…

coba dihitung2ya.. dengan sufor yang kualitas standard (b*b*l*c)

untuk sayyid seminggu (7 hari) konsumsi 400 gram seharga +/- 50.000 dengan konsumsi 2x150ml

nah kalu utk UHT misalkan yg Ultr* ahja 200ml: Rp.2.300

secara kasar aja ya.. 2x2300x7 hari = 32.200



Nah dah saving berapa tuh? 17.800 itu aja kualitas standar

apalagi sufor yang harganya ratusan ribu…



Tapi, ya itu nanti kalo sayyid udah 1 tahun..

mudah2an aja ASIP ku nambah banyak, jadi malah gak perlu beli susu tambahan apapun sampe 2 tahun…


Ohya dalam memlilih UHT juga harus hati2…

pilih yang komposisi nya dari susu segar, bukan campuran susu bubuk, susu segara dll…


so far si aku baru tau 2 merk yang bener2 susu segar.., yaitu Ultr* dan Diam*nd


Nah ini sebagian artikelnya.. semoga bermanfaat



Ide awal formulasi dari susu bubuk formula bayi adalah membuat pengganti ASI dengan komposisi sedapat mungkin menyerupai ASI, dari susu sapi yang ditujukan

untuk bayi2 yang tidak bisa mendapatkan ASI.



Karena bayi dibawah satu tahun belum dapat mencerna secara langsung susu sapi dengan kadar lemak yang cukup tinggi, sehingga bahan dasarnya skimmilk

ditambahkan lemak nabati.



Skimmilk diperoleh dengan memisahkan lemak susu dari susu murni, dan lemaknya jadi bahan baku butter.

Kadar vitamin larut lemak dalam skimmilk rendah sekali, sehingga untuk meningkatkan kadar lemak di fortifikasi lagi dengan vitamin2 tambahan.



Disamping itu proses pengeringan susu bubuk sendiri menurunkan kandungan vitamin yang tidak tahan suhu

tinggi, hal ini juga penyebab perlunya penambahan vitamin kedalam susu bubuk.



Demikian pula tambahan lemak nabati (linolenat-linoleat,DHA,AA) dimasukkan kedalam
susu formula dengan tujuan membuat sedekat mungkin mirip

fungsi/daya guna ASI.



(http://keluargasehat.wordpress.com/2008/03/19/uht-vs-susu-formula/)



Proses Susu UHT



Susu cair segar UHT dibuat dari susu cair segar yang diolah menggunakan

pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat singkat untuk

membunuh seluruh mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat baik.



Secara kesuluruhan faktor utama penentu mutu susu UHT adalah bahan

baku, proses pengolahan dan pengemasannya. Bahan baku susu UHT cair

segar adalah susu segar yang memiliki mutu tinggi terutama dalam

komposisi gizi. Hal ini didukung oleh perlakuan pra panen hingga pasca

panen yang terintegrasi. Pakan sapi harus diatur agar bermutu baik dan

mengandung zat-zat gizi yang memadai, bebas dari antibiotika dan

bahan-bahan toksis lainnya. Dengan demikian, sapi perah akan

menghasilkan susu dengan komposisi gizi yang baik. Mutu susu segar juga

harus didukung oleh cara pemerahan yang benar termasuk di dalamnya

adalah pencegahan kontaminasi fisik dan mikrobiologis dengan sanitasi

alat pemerah dan sanitasi pekerja. Susu segar yang baru diperah harus

diberli perlakuan dingin termasuk transportasi susu menuju pabrik.



Pengolahan di pabrik untuk mengkonversi susu segar menjadi susu UHT

juga harus dilakukan dengan sanitasi yang maksimum yaitu dengan

menggunakan alat-alat yang steril dan meminimumkan kontak dengan tangan.

Seluruh proses dilakukan secara aseptik.



Susu UHT dikemas secara higienis dengan menggunakan kemasan aseptik

multilapis berteknologi canggih, Kemasan multilapis ini kedap udara

sehingga bakteri pun tak dapat masuk ke dalamnya. Karena bebas bakteri

perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk

dikonsumsi. Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya

sehingga cahaya ultra violet tak akan mampu menembusnya dengan

terlindungnya dari sinar ultra violet maka kesegaran susu UHT pun akan

tetap terjaga. Setiap kemasan aseptik multilapis susu UHT disterilisasi

satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu.


Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia

sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar

kesehatan internasional.



Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptic multilapis menjamin

susu UHT bebas bakteri dan tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet

dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah

diproduksi.



Keunggulan Susu UHT



Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang pada

susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak

perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari

umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain

itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari

seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora

sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir

tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan

mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi,

relatif tidak berubah.



Proses pengolahan susu cair dengan
teknik sterilisasi atau pengolahan

menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu

gizinya terutama vitamin dan protein. Pengolahan susu cair segar menjadi

susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein.



Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu

cair menjadi susu bubuk.



Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen

coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi

pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu

akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama

seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut

menyebabkan menurunnya daya cerna protein.



Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama

juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu

perubahan k
onfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh

manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.

Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang

ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh.



Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak

kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu.

Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya

mencapai 0-2 persen.


Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.



(http://www.mail-archive.com/ayahbunda-online@yahoogroups.com/msg06496.html)



Susu segar merupakan cairan yang berasal dari kambing atau sapi yang sehat

dan bersih. Susu diperoleh dengan cara pemerahan yang benar dan kandungan

alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat

perlakuan apapun.



Susu bubuk berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat

lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya

pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer.

Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik

dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu

bubuk berlemak (full cream milk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly

skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder).



Sedangkan susu UHT merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan

suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145 derajat celcius) selama

2-5 detik. Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh

mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora.



Waktu pemanasan

yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta

untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti

susu segarnya.



Dari berbagai susu tersebut, yang paling disarankan adalah susu UHT. Karena

berdasarkan beberapa penelitian, menyebutkan susu yang diproses secara UHT

dapat mempertahankan nilai gizi lebih baik daripada proses pengolahan

lainnya. Indikatornya adalah prosentase kerusakan lisin atau asam amino

pembatas.



Seiring dengan kemajuan teknologi, susu UHT kemudian dikemas menggunakan

enam lapis kertas, plastik polyethylene, dan alumunium foil yang mampu

melindungi susu dari udara luar, cahaya, kelembaban, aroma luar, dan

bakteri. Susu UHT dalam kemasan aseptik ini tahan disimpan dalam suhu kamar

sampai 10 bulan, tanpa bahan pengawet. Dengan kemasan tersebut, susu

terhindar dari bakteri perusak minuman dan tetap segar serta aman untuk

dikonsumsi.



Susu UHT juga merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh

mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga

potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada.

Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori

(warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak

berubah.


Bagi anak, berikan susu UHT dengan rasa plain. Karena lebih sedikit gula

serta zat artificial didalam susu tersebut. Apabila kemasan susu UHT telah

dibuka, maka susu tersebut harus disimpan pada kulkas karena susu UHT harus

dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50 derjat Celcius),

sebab dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel akibat kerusakan protein.

Harga susu UHT memang sedikit lebih mahal dari susu bubuk, namun demi

kualitas anak, tidak perlu keraguan untuk membelinya. Hal ini diperlukan

karena berdasarkan survei perusahaan riset global Canadean (2004), konsumsi

susu sapi segar di Indonesia termasuk paling rendah di Asia.



(indosiar.com)



DHA SULIT DISERAP BAYI, JANGAN TERPENGARUH IKLAN SUSU

1/22/2007



JAKARTA (MEDIA) : Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut.


Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak-anak termasuk untuk ibu hamil.


“Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta.


Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tsb. tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur.



Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi.


“Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA-nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat. “Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”. Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat diberikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang. Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula.


Menye
satkan



Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari-hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala-galanya”, tegasnya lagi.


Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak-anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masayarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsur tambahan tersebut.


Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu.


Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non-Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. “Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber. Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda”. (Rse/V-1)



(http://www.sehatgroup.web.id)


Responses

  1. hemat, praktis dan enak.. apa lg diminum dingin… segar…..

  2. Tya, bagaimana dengan susu kedelai? Ibuku tiap hari bikin susu kedelai. Mudah n cepet kok. Tinggal rebus kedelai, terus di blender dan disaring deh. Kalau pengen ga kerasa ampasnya, pake saringan kain (ini gw ga tahu beli dimana :P).

  3. @mbakshin: setujuh :D@olin: susu/sari kedelai aku gk tau lin.krn aku super ueneg minum itu🙂

  4. @mbakshin: setujuh :D@olin: susu/sari kedelai aku gk tau lin.krn aku super ueneg minum itu🙂

  5. Oh…justru gw suka susu kedelai. Gw suka susu cair fresh yang dijual per karton gitu…sepertinya bukan UHT yah? Gw paling ga suka minum susu bubuk dikasih air panas. Pokoknya harus dibuatin sampe beneran ga ada gumpalan. Kena dikit gumpalan bisa muntah. Aneh :PTapi Ty, gimana dengan susu kedelai buat bayi? Itu kan susu dari tanaman…bukan dari ibu sapi😛 Bagus ga?

  6. Olin : susu UHT itu susu segar yg di sterilkan, iyah biasanya klo dijual dikemas perkarton gt.. baiknya susu segar, tp kan gak awet.. kecuali kita dekat sama peternakan sapi, bs tiap pagi minta dianter :)klo untuk bayi, usahakan <1 thn ttp asi aja, jgn pake susu yg lain, setalah 1 thn bs pake susu segar dan susu kedelai, tp klo bs ttp ada konsumsi susu sapi, krn bagaimanapun ada kandungan susu sapi yg gak bs diganti oleh susu kedelai🙂

  7. Olin,setahuku kedelai tdk dianjurkan utk bayi kurang 6 bulan. Kalopun terpaksa sufor gk asi dan trnyata baby alergi sapi,mk bs dipilih susu sapi khusu alergi….Kalo susu fresh mgkin yg dipasteurisasi ya? Setahuku lebih bagus dr uht tp sayang waktu simpannya pendek

  8. (ira)Tya… alhamdulillah allen kmrn pas setaun lancar proses peng-UHTannya (halah)😀. And she likes it!!!!!!!🙂. Jadi lebih praktis, bye bye dot during traveling hehehey.Bunda senang, allen senang ^-^.

  9. waaah alen pintar.. eh iya dah 1 tahun ya… tapi masih ASI bu?

  10. Susu UHT dsukabumi adanya dmana? kalo susu kuda liar lebih bagus?buat org dwasa maksimal mnum brp gelas perhari? ada gak kasus ovrdosis susu?

  11. Susu UHT dsukabumi adanya dmana? kalo susu kuda liar lebih bagus?buat org dwasa maksimal mnum brp gelas perhari? ada gak kasus ovrdosis susu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: